COMPREHENSIVE CAREER COUNSELING (ringkasan)

COMPREHENSIVE CAREER COUNSELING

Comprehensive career counseling merupakan proses konseling yang mengintegrasikan teknik-teknik dari kelima pendekatan konseling, untuk membantu klien dalam menyelesaikan malsalah klien yang kompleks (lebih dari satu focus masalah karis individu).

METODE

Teknik Wawancara Interpretasi Tes Informasi Pekerjaan
Trait and Factor Melibatkan metode yang berupoa:Establishing rapport(menumbuhkan hubungan baik antara konselor dengan klien,Cultivating selfunderstanding(upaya pemahaman diri klien), advising or planning a program of action(poemberian advis atau merencanakan sebuah program tindakan, carrying out the plan(membuat perencanaa tindakan nyata), danreferral. Melibatkan konselor yang berwenang membuat interpretasi pada hasli tes, dan menggambarkan kesimpulan dan merekomendasikan dari tes untuk pertimbangan klien. Konselor memberikan informasi hendaknya mencakup tiga fungsi yaitu : fungsiinformational, readjustive, dan motivational.
Client Centered Konselor merespon lebih dulu, menerima, menerangkan, dan menyatakan dengan maksud untuk mencapai pemahaman diri, konselor memusatkan pada refleksi perasaan semata-mata dengan menggantikan teknik menerangkan tujuannya agar klien memperoleh gambaran, dan konselor dapat lebih efektif dalam wawancara sesuai dengan kebutuhan. Konselor menjadikan tes sebagai alat utama yang digunakan untuk mengidentifikasi klien dan apa yang diinginkan, digunakan jika betul-betul dibutuhkan dan diminta oleh klien. Super menyebutnya “uji kecermatan” Diperkenalkan ketika klien mmebutuhkan; konselor  harus memastikan bahwa informasi memiliki arti pribadi bagi klien, serta dipahami dan diteliti melalui konteks kebutuhan dan nilai dan kenyataan secara objektif.
Psychodynamics Ada tiga kategori respons interpretatif konselor yang dapat digunakan dalam konseling (menurut Bordin) yaitu: 1)clarification yaitu dimaksudkan untuk melakukan wawancara dan verbalisasi bahan-bahan yang sesuai dengan permasalahan, 2)comparison, yaitu membandingkan untuk memperlihatkan persamaan dan perbedaan secara tajam, 3)interpretation of wish defence system, interpretasi pada system “harapan yang diinginkan, menunjukkan gabungan praktis pendekatan Psikodinamik, Trait dan Factor dan Client Centered. Tiga tujuan utama menurut Bordin, yaitu: 1) bahwa klien menjadi partisipan yang aktif dalam memilih dan menentukan jenis tes yang akan dilakukan. 2) bahwa te3s memberikan informasi diagnostikbagi konselor untuk mendorong eksplorasi diri klien. 3) bahwa secara verbal konselor memberikan interpretasi tes, sebagai mana yang dibutuhkan (bandingkan dengan pendekatan trait dan factor yang menggunakan keseluruhan penafsiran  tes). Informasi berdasarkan atas analisis kebutuhan mengenai kewajiban-kewajiban danntugas-tugas pekerjaan, mirip dengan pendekatan trait dan factor dlam menyesuaikan individu dengan pekerjaan, tapi berbeda dalam variable kebutuhan persobality dan ikondisi kerja yang memuaskan, daripada karakteristik statis individu dan pekerjaan.
Developmental Menurut Super yang berhubungan dengan perubahan pendekatan dalam merespon secara langsung isi pernyataan oleh klien dan yang secara tidak langsung untuk mengekspresikan perasaan. Informasi yang tepat dalam menggambarkan contoh karir dalam membedakan jabatan, menurut super ada enam pola yang menggambarkan pola karir yang dibutuhkan untuk pendekatan ini. Tujuannya untuk memaksimalkan nilai tes dalam membuat keputusan dengan mengadministrasikannya secara berbeda, dengan melibatkan klien dalam setiap fase proses; menampilkan uji kecermatan dibandingkan dengan uji kejenuhan seperti pada pendekatan trait dan factor.
Behavioral Goodstein mengajukan teknik psychoteraphy untuk mengurangi kecemasan. Ia sependapat dengan krumboltz dan thoresen dalam pandangan pragmatisnya merekan berpendapat bahwa konselor seharusnya menguatkan keinginan klien, mendorong terjadinya proses modeling social, dan mengajarkan pembelajaran berbeda dalam memperoleh kemahiran membuatkeputusan. Penggunakan tes dalam setiap tesri atau pandangan secara pragmatic, hamper diabaikan sejak mereka mengukur perbedaan individual dalam hal tingkah laku, disbanding mencverminkan interaksi antara individu dan lingkungan. Yang menjadi perhatian utama konselor behavior yaitu mengumpulkan data tingkah laku individu. Konselor behavior telah mengembangkan beragam jenis yang berguna dalam menumbuhkan semangat eksplorasi karir dan membuat keputusan daripada membuat informasi yang sederhana.

COMPREHENSIVE CAREER COUNSELING WITH WOMEN

A. MODEL

Berubah dalam segi substansinya, ini dikarenakan perbedaan yang signifikan dalam proses perkembangan karir wanita dengan laki-laki (super, osipow, Fitzgerald, dan crites), dan dikarenakan sosialisasi dari peran karir wanita dan laki-laki berbeda cukup signifikan, yakni perbedaan dalam segi diagnosis, sehingga berbeda dalam proses, dan hasilnya.

Kedua perbedaan di atas disebabkan karena adanya perbedaan orientasi karir wanita dan laki-laki. Adapun perbedaan orientasi karir wanita dan laki-laki sebagai berikut:

Wanita dalam mengerjakan pekerjaannya dilakukan secara istimewa, walaupun tidak berdasarkan pada kebutuhan masa depan. Ini disebabkan karena adanya dilemma antara bekerja (working) atau menjadi ibu rumah tangga (mothering), dan karena adanya jarak tempat kerja yang menjadi pertimbangan bagi wanita dalam memilih karinya. Berdasarkan konflik itulah wanita memiliki kecenderungan kurang sukses berkarir karena wanita kurang percaya diri untuk terjun dalam dunia karir (hal ini dapat disebut juga fear of success).

Fase proses komprehensif karir kaonseling wanita:

  1. problem exploration.
  2. clarification.
  3. resolution.

Adapun tujuan komprehensif karir konseling wanita yaitu wanita mengetahui bahwa pilihan karirnya itu merupakan pilihan terbaik untuyk dirinya.

B. METODE

1. teknik wawancara.

2. tes interpretation.

3. informasi pekerjaan.

C. MATERIAL

  • menurut Schiffer, materi konseling berhubungan dnegan inventori minat pekerjaan.
  • Menurut Zytowski, konselor dapat memodifikasi teknik-teknik konseling tergantung pada instrument yang digunakan dalam konseling.
  • Menurut Stebbins, Ames, dan Rhoden, konselor dapat menggubnakan sex-fair counseling.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s